Blog

2 Juni 2022

5 Bahaya Hipertensi dalam Kehamilan

foto : unsplash

Setiap ibu hamil perlu mewaspadai bahaya hipertensi dalam kehamilan.

Ibu hamil yang memiliki penyakit tekanan darah tinggi bisa mengalami komplikasi sebelum, selama, dan setelah melahirkan.

Tidak hanya ibu hamil yang berisiko, janin di dalam kandungan juga bisa terkena efek hipertensi dalam kehamilan. Simak penjelasan berikut.

Bahaya hipertensi dalam kehamilan

Tekanan darah tinggi dalam kehamilan menimbulkan beberapa risiko kesehatan. Dilansir dari Mayo Clinic, berikut beberapa bahayanya:

  • Bayi lahir dengan berat badan rendah

Penurunan aliran darah ke plasenta bisa membuat bayi kekurangan oksigen dan nutrisi penting untuk tumbuh kembangnya di dalam kandungan.

Akibatnya, bayi berisiko lahir dengan berat badan rendah, atau bayi lahir dengan beberapa komplikasi.

  • Solusio plasenta

Tekanan darah tinggi dalam kehamilan juga berisiko meningkatkan risiko solusio plasenta atau plasenta terpisah dari dinding bagian dalam rahim.

Kondisi ini bisa menyebabkan pendarahan hebat yang dapat mengancam keselamatan ibu hamil dan janin dalam kandungan.

  • Merusak organ lain

Tekanan darah tinggi saat hamil yang tidak terkontrol dapat merusak organ lain, seperti otak, jantung, paru-paru, liver, dan organ vital lainnya.
Dalam kondisi yang parah, hipertensi dalam kehamilan juga bisa merenggut nyawa.

  • Bayi lahir prematur

Untuk mencegah komplikasi hipertensi dalam kehamilan yang mengancam jiwa, dokter terkadang menyarankan opsi persalinan dini. Kondisi ini bisa membuat bayi lahir prematur.

  • Meningkatkan risiko penyakit jantung dan pembuluh darah

Wanita yang punya riwayat preeklamsia dan hipertensi dalam kehamilan lebih berisiko terkena penyakit jantung dan pembuluh darah di kemudian hari.

Risiko ini berisiko lebih tinggi apabila ibu hamil mengalami preeklamsia lebih dari sekali atau pernah melahirkan bayi prematur karena tekanan darah tinggi.

Siapa yang rentan terkena hipertensi dalam kehamilan?

Dilansir dari Cleveland Clinic, ibu hamil berisiko mengalami hipertensi dalam kehamilan apabila:

  • Hasil di bawah usia 20 tahun atau di atas usia 40 tahun
  • Pernah mengalami hipertensi sebelum hamil
  • Punya riwayat hipetensi gestasional atau preeklamsia di kehamilan sebelumnya
  • Berasal dari keluarga pengidap hipertensi gestasional
  • Memiliki riwayat diabetes atau diabetes gestasional
  • Berat badan berlebihan di atas normal
  • Punya riwayat penyakit autoimun seperti lupus
  • Mengidap penyakit ginjal
  • Hamil bayi kembar
  • Pernah melakukan program kehamilan dengan fertilisasi in vitro

Jika ibu hamil termasuk kelompok berisiko terkena hipertensi dalam kehamilan, pastikan untuk rutin memantau kondisi kesehatannya ke dokter atau bidan yang menangani.

Cara menurunkan hipertensi dalam kehamilan

Meskipun ada beberapa bahaya hipertensi dalam kehamilan, para ibu hamil sebaiknya tidak panik berlebihan ketika mendapati masalah kesehatan ini.

Ada beberapa cara menurunkan hipertensi dalam kehamilan sekaligus mengurangi risiko komplikasinya, antara lain:

  • Pastikan ibu hamil tidak melewatkan jadwal kontrol kandungan rutin ke dokter
  • Minum obat hipertensi sesuai jenis dan dosis yang diresepkan dokter, hindari sembarangan minum obat tanpa petunjuk dari dokter
  • Upayakan untuk tetap aktif bergerak sesuai yang dianjurkan bidan atau dokter yang menangani
  • Konsultasikan dengan ahli gizi terkait diet hipertensi yang paling pas sesuai kondisi tubuh
  • Pantau tekanan darah secara berkala

Bagi ibu hamil dengan tekanan darah tinggi, jalankan beberapa cara di atas. Dengan begitu, bahaya hipertensi dalam kehamilan bisa dicegah.

Sumber : kompas.com

GAYA HIDUP, Ibu dan Anak

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.