Blog

30 Desember 2021

5 Masalah Gigi yang Rentan Dialami Lansia, Harus Rutin Diperiksa

Lansia (foto : google)

Seiring pertambahan usia, kondisi kesehatan pun kian menurun. Berbagai organ mengalami penurunan fungsi sehingga tubuh jadi tak seprima dulu. Karenanya, pengaturan pola hidup sehat perlu dilakukan untuk mencegah penurunan kesehatan makin parah.

Salah satu yang tak boleh luput dari perhatian ialah kesehatan gigi dan mulut. Menurut keterangan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika (CDC), diperkirakan 2 dari 3 lansia menderita penyakit gusi. Bahkan Harvard Health Publishing melansir, penyakit gusi berisiko menyebabkan kanker pada perempuan lanjut usia.

Tak boleh disepelekan, berikut ini masalah gigi dan mulut yang sering dikeluhkan saat usia menua.

1. Warna enamel gigi lebih gelap

Enamel merupakan lapisan terluar gigi yang berfungsi melindungi bagian di dalamnya. Healthline melansir, lapisan tipis ini sangat kuat sebab mengandung banyak mineral, kalsium dan fosfat. Ini menjadikan enamel sebagai permukaan paling keras di dalam tubuh.

Dikutip Pronamel, warna enamel normalnya bervariasi dari kuning terang ke abu atau putih kebiruan. Namun, warna enamel bisa menggelap terutama karena berbagai faktor, seperti merokok, konsumsi makanan, minuman, dan obat-obatan tertentu, dan jarang merawat gigi.

Seperti dijelaskan dalam laman WebMD, ini bisa disebabkan juga karena proses penuaan. Saat usia bertambah, enamel akan semakin menipis sehingga menampakkan dentin yang berwarna gelap.

2. Mulut terasa kering

Data yang dihimpun American Dental Association (ADA) menyebutkan, sebanyak 1 dari 3 orang berusia di atas 65 tahun mengalami permasalahan mulut kering atau yang secara medis disebut xerostomia. Kondisi ini disebabkan karena penurunan produksi saliva atau air liur.

Pada lansia, ini biasa terjadi akibat penggunaan obat-obatan tertentu atau kemoterapi, kekurangan gizi, atau penyakit kronis seperti diabetes melitus tipe 2. Xerostomia bisa menyebabkan pertumbuhan bakteri di mulut dan membuat kita kesulitan menikmati makanan.

3. Karies akar gigi

Berkaitan dengan mulut kering, penurunan produksi air liur juga bisa menyebabkan gigi berlubang. Di dalam mulut, air liur berfungsi untuk melindungi gigi dengan menetralisir asam yang diproduksi bakteri dan mencegah pertumbuhan bakteri, mengutip Mayo Clinic.

Oleh karena itu, penurunan air liur dapat menyebabkan kerusakan enamel yang kemudian meningkatkan risiko karies akar gigi. Menurut ADA, sebagian besar lansia mengalami karies akar gigi. Risikonya bahkan meningkat akibat resesi gusi atau gusi yang merosot hingga akar gigi terekspos.

4. Permasalahan gusi

Periodontitis atau penyakit gusi merupakan permasalahan gigi dan mulut yang lumrah dialami lansia. Ini karena peradangan yang biasa terjadi akibat infeksi bakteri. Kondisi ini menyebabkan kerusakan pada jaringan lunak gusi, sehingga gigi terasa lebih sensitif terhadap suhu makanan.

Dilansir Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika (CDC), sebanyak 2 dari 3 lansia berusia di atas 65 tahun mengalami permasalahan gusi. Pada lansia, risikonya makin meningkat pada orang yang menderita artritis atau radang sendi, diabetes, penyakit jantung, dan penyakit paru obstruktif kronis.

5. Gigi ompong

Tanpa penanganan yang tepat, permasalahan gusi bisa menyebabkan gigi goyang bahkan hingga copot. Gigi ompong menjadi permasalahan yang sering dikeluhkan lansia. Berdasarkan keterangan CDC, sekitar 1 dari 5 lansia berusia lebih dari 75 tahun kehilangan nyaris semua gigi mereka.

Gigi ompong merupakan puncak dari permasalahan gigi dan mulut yang terakumulasi dalam jangka waktu lama. Oleh karenanya, perawatan gigi dan mulut yang rutin sangat dianjurkan untuk mencegah gigi ompong saat memasuki usia lanjut.

Permasalahan gigi dan mulut sejatinya bisa dicegah sejak dini. Mulai sekarang, yuk, rawat gigi dengan menggosoknya minimal dua kali sehari, flossing gigi sehabis makan, kurangi konsumsi makanan dan minuman yang bersifat asam, serta hindari merokok dan mengonsumsi alkohol. Jangan lupa melakukan pemeriksaan rutin setiap 6 bulan sekali, ya!

Sumber : IDN Times

GAYA HIDUP, Kesehatan

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • four × 1 =