Blog

26 Juli 2022

7 Risiko Jarak Kehamilan Terlalu Dekat, Bahayakan Ibu dan Bayi

foto : unsplash

Ada banyak hal yang perlu dipertimbangkan sebelum memutuskan untuk memiliki anak, salah satunya adalah jarak kehamilan. Mengatur jarak kehamilan bukan hanya memengaruhi seberapa dekat usia anak-anak, tetapi juga kualitas kehamilan ibu.

Dilansir March of Dimes, idealnya adalah menunggu setidaknya 18 bulan setelah melahirkan untuk hamil lagi. Artinya, setidaknya anak telah berusia 1,5 tahun sebelum kembali hamil. Jeda waktu tersebut memberi tubuh waktu untuk pulih sepenuhnya dari kehamilan terakhir dan lebih siap untuk menyambut kehamilan berikutnya.

Sebaliknya, jika jarak kehamilan terlalu dekat, ini berpotensi memberikan pengaruh buruk bagi ibu maupun bayi. Berikut adalah beberapa dampak buruk dari jarak kehamilan yang terlalu dekat.

1. Kelahiran prematur

Jarak kehamilan yang terlalu dekat meningkatkan risiko kelahiran prematur. Makin pendek waktu antara kehamilan, makin tinggi risiko ibu melahirkan secara prematur.

Bayi prematur berarti bayi yang lahir terlalu cepat, yaitu sebelum 37 minggu kehamilan. Bayi yang lahir prematur lebih mungkin mengalami masalah kesehatan dan harus tinggal di rumah sakit lebih lama daripada bayi yang lahir tepat waktu. Beberapa masalah kesehatan yang mungkin dialami bayi prematur adalah anemia, masalah pernapasan, dan penyakit kuning.

2. Berat badan lahir rendah

Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), seorang bayi dinyatakan memiliki berat badan lahir rendah (BBLR) saat ia memiliki berat badan di bawah 2,5 kg saat dilahirkan. Bayi BBLR lebih mungkin mengembangkan sejumlah masalah kesehatan, seperti sistem kekebalan yang lemah hingga masalah mental.

Di masa depan, bayi dengan BBLR juga lebih mungkin mengalami pertumbuhan dan perkembangan kognitif yang terhambat. Bayi juga sekitar 20 kali lebih mungkin meninggal dunia daripada bayi dengan berat badan normal.

3. Kecil masa kehamilan

Kecil masa kehamilan (KMK) atau small for gestational age (SGA) adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan berat badan bayi yang lebih kecil dari biasanya untuk jumlah minggu kehamilan tertentu. Singkatnya, bayi KMK lebih kecil daripada bayi pada umumnya pada usia kehamilan yang sama.

Ketika dilahirkan, banyak bayi KMK memiliki berat badan lahir rendah. Namun, tidak semuanya lahir prematur dan mungkin tidak memiliki masalah yang sama seperti bayi prematur. Namun, sebagian lainnya mungkin terlihat kurus dan pucat.

4. Solusio plasenta

Plasenta berkembang di dalam rahim selama kehamilan. Plasenta menempel pada dinding rahim dan bertanggung jawab dalam memasok bayi dengan nutrisi dan oksigen.

Dijelaskan laman Mayo Clinicsolusio plasenta terjadi saat sebagian atau seluruh plasenta terpisah dari dinding bagian dalam rahim sebelum melahirkan.

Solusio plasenta adalah komplikasi kehamilan yang jarang terjadi namun serius. Ini bisa menurunkan atau menghalangi suplai oksigen dan nutrisi kepada bayi dan menyebabkan perdarahan hebat pada ibu.

5. Anemia

Saat hamil, produksi darah meningkat untuk mendukung pertumbuhan bayi. Jika ibu tidak mendapatkan cukup zat besi atau nutrisi lainnya, tubuh mungkin tidak mampu memproduksi sel darah merah dalam jumlah yang dibutuhkan, menurut penjelasan laman WebMD.

Anemia dapat menyebabkan ibu hamil merasa lelah dan lemah. Jika anemia cukup parah tetapi tidak diobati, ini dapat meningkatkan risiko komplikasi serius, seperti:

  • Bayi lahir prematur.
  • Berat badan lahir rendah.
  • Membutuhkan transfusi darah saat melahirkan.
  • Depresi pascapersalinan.
  • Bayi dengan anemia.
  • Anak mengalami keterlambatan perkembangan.

6. Ruptur uteri

Ruptur uteri ialah komplikasi persalinan yang dapat terjadi selama kelahiran prematur. Ini menyebabkan rahim ibu robek sehingga bayi tergelincir ke perut. Ini dapat menyebabkan ibu mengalami pendarahan hebat dan dapat mencekik bayi.

Dilansir Healthline, risiko seorang ibu mengalami ruptur uteri meningkat dengan setiap operasi caesar. Karena alasan ini, dokter sering merekomendasikan perempuan yang pernah melahirkan secara caesar agar menghindari persalinan pervaginam pada kehamilan berikutnya.

7. Masalah kesehatan mental

Dijelaskan dalam laman Contra Costa Health Services, jarak kehamilan yang terlalu dekat membuat ibu lebih mungkin mengalami depresi pascapersalinan. Ibu dengan depresi pascapersalinan cenderung mengalami pasang surut emosional, seperti sering menangis, kelelahan, rasa bersalah, kecemasan, dan mungkin mengalami kesulitan merawat bayi mereka.

Depresi pascapersalinan dapat memengaruhi bayi dengan cara berikut:

  • Ibu kesulitan menjalin ikatan dengan bayi.
  • Anak mungkin memiliki masalah perilaku atau belajar.
  • Ibu lebih mungkin melewatkan janji temu dengan dokter anak.
  • Anak mungkin mengalami masalah makan dan tidur.
  • Anak berisiko lebih tinggi mengalami obesitas atau gangguan perkembangan.
  • Ibu mungkin mengabaikan perawatan anak atau tidak menyadari ketika anak sakit.
  • Anak mungkin mengalami gangguan keterampilan sosial.

Jadi, jika kamu baru saja melahirkan dan ingin memiliki anak lagi, konsultasikan dengan dokter seputar kapan sebaiknya kamu dapat memulai program hamil lagi. Jika saat ini kamu sedang hamil dan memiliki jarak yang cukup dekat dengan persalinan sebelumnya, tidak perlu panik. Diskusikan kondisimu dengan dokter dan ikuti semua saran yang diberikan agar kamu memiliki kehamilan yang sehat.

Sumber : IDN Times

GAYA HIDUP, Ibu dan Anak

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.