Blog

20 November 2020

8 Makanan yang Dilarang dan Sebaiknya Dihindari Ibu Hamil

Foto : freepik.com/valeria-aksakova

Salah satu hal pertama yang diingat oleh ibu hamil adalah apa yang tidak bisa mereka makan selama masa kehamilan. Ada beberapa makanan yang dilarang untuk ibu hamil dan sebaiknya dihindari.

Namun, ibu hamil tak perlu khawatir. Tak semua makanan harus dihindari, beberapa makanan masih tetap dapat Anda nikmati.

Beberapa makanan yang dilarang untuk ibu hamil ini disebut dapat mengganggu kesehatan janin dan ibu hamil. Berikut mengutip Healthline.

1. Ikan dengan kandungan merkuri tinggi

Merkuri adalah senyawa beracun yang berbahaya bagi tubuh. Tak ada tingkat aman paparan merkuri yang diketahui.

Dalam jumlah tinggi, merkuri bisa menjadi racun bagi sistem saraf, sistem kekebalan, dan ginjal. Asupan tinggi merkuri juga dapat menyebabkan masalah pertumbuhan pada anak.

Ikan dengan kandungan merkuri tinggi meliputi ikan hiu, ikan todak, makarel, dan ikan tuna.

Sebagai gantinya Anda bisa mengonsumsi ikan teri, ikan kod, ikan salmon, dan ikan nila yang rendah kandungan merkuri.

2. Ikan dan daging setengah matang atau mentah

Bagian ini paling sulit bagi ibu hamil yang menggemari sajian sushi. Namun, ikan dan daging, dapat memicu beberapa infeksi virus, bakteri, dan parasit.

Infeksi bisa memicu dehidrasi dan tubuh yang terasa lemah. Infeksi juga dapat ditularkan ke bayi dengan konsekuensi yang lebih serius.

Ilustrasi sushi
Ilustrasi. Sushi dan makanan mentah lainnya berisiko mengandung bakteri Listeria yang bisa berbahaya buat ibu hamil. (Pixabay/adonlinepromo)

Bakteri Listeria juga dapat ditularkan ke bayi melalui plasenta. Infeksi dapat menyebabkan persalinan prematur, keguguran, dan masalah serius lainnya.Perlu diketahui, ibu hamil sangat rentan terhadap infeksi Listeria. Bakteri ini ditemukan di tanah dan air yang terkontaminasi. Ikan dan daging mentah dapat terinfeksi selama pemrosesan.

3. Telur mentah

Telur mentah dapat terkontaminasi oleh bakteri Salmonella. Gejala infeksi Salmonella di antaranya demam, mual, muntah, kram perut, dan diare.

Dalam kasus yang jarang terjadi, infeksi dapat menyebabkan kram di rahim, yang bisa memicu kelahiran prematur.

Hindari makanan apa pun yang menggunakan telur mentah sebagai salah satu bahannya.

4. Jeroan

Jeroan merupakan sumber berbagai nutrisi seperti zat besi, vitamin B12, vitamin A, seng, selenium, dan tembaga. Kesemuanya baik untuk kesehatan ibu hamil dan bayi.

Namun, konsumsi terlalu banyak vitamin A yang berasal dari hewan tidak dianjurkan selama masa kehamilan. Asupan berlebih vitamin A dapat menyebabkan kelainan bawaan dan keguguran.

5. Kafein

Tak dipungkiri, asupan kafein pada teh dan kopi dapat meningkatkan suasana hati. Namun, ibu hamil disarankan untuk membatasi asupan kafein hingga kurang dari 200 miligram per hari.

Kafein diserap dengan cepat dan mudah masuk ke dalam plasenta. Karena bayi dan plasentanya tak mamiliki enzim utama yang diperlukan untuk memetabolisme kafein, kadar kafein yang tinggi dapat meningkat begitu saja.

Asupan kafein tinggi selama kehamilan terbukti dapat membatasi pertumbuhan janin dan meningkatkan risiko berat badan lahir rendah saat melahirkan.

Berat badan lahir rendah didefinisikan sebagai kurang dari 2,5 kilogram, yang dikaitkan dengan peningkatan risiko kematian dan penyakit kronis di usia dewasa.

6. Kecambah mentah

Kecambah mentah rentan terkontaminasi bakteri Salmonella. Lingkungan lembap yang dibutuhkan benih untuk mulai bertunas sangat ideal sebagai tempat berkembangnya bakteri ini.

7. Susu dan keju yang tidak dipasteurisasi

Sama dengan yang lainnya, infeksi bakteri mengancam jika ibu hamil mengonsumsi susu dan produk susu yang tidak dipasteurisasi.

8. Alkohol

Ibu hamil disarankan untuk benar-benar menghindari minuman beralkohol. Minuman beralkohol akan meningkatkan risiko keguguran dan lahir mati. Jumlah alkohol yang sedikit pun dapat berdampak negatif terhadap perkembangan otak bayi kelak.

Konsumsi minuman beralkohol selama kehamilan juga dapat memicu sindrom yang menimbulkan kelainan bentuk wajah, kelainan jantung, dan cacat intelektual pada anak.

Sumber : cnnindonesia.com

GAYA HIDUP, Ibu dan Anak

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • twelve + five =