Blog

29 Juli 2020

Bukit Shafa dan Marwah

Ilustrasi Gurun Sahara. ©2014 Merdeka.com/Shutterstock/takepicsforfun

Kisah Nabi Ibrahim dan Hajar terus berlanjut. Sejak mendapatkan jawaban itu, Hajar segera kembali ke tempatnya semula bersama Ismail, sedangkan Ibrahim kembali melanjutkan perjalanan menuju Syam. Dalam perjalanannya, Ibrahim kemudian menghadap Ka’bah dan mengangkat kedua tangannya lalu berdoa kepada Allah.

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (QS Ibrahim : 37)

Di sisi lain, Hajar kembali menemui Ismail dan mulai menyusuinya. Selama beberapa hari Hajar hidup dengan persediaan minum yang telah dibawanya. Namun tiba di suatu hari, persediaan air itu semakin lama habis. Ia menjadi haus, begitu pula dengan bayinya. Ismail kecil pun hanya bisa menangis saat ia kehausan. Hajar hanya bisa memandangnya dengan rasa kasihan. Karena tidak tahan, Hajar kemudian pergi meninggalkan Ismail untuk mencari bantuan.

Sampailah Hajar di bukit Shafa, sebuah gunung yang tidak jauh dari keberadaannya semula bersama Ismail. Hajar berdiri di bukit itu dan menghadap ke lembah untuk mencari tanda-tanda keberadaan manusia lain yang bisa membantunya. Namun, ia tidak melihat satu orang pun yang berada di sana. Kemudian Hajar memutuskan untuk pergi ke lembah hingga sampai di bukit Marwah. Dia mencoba berdiri dan mencari pertolongan, namun tetap saja tidak ada manusia lain yang terlihat di sana. Bahkan Hajar melakukan penjalanan dari Shafa ke Marwah hingga tujuh kali, namun masih saja nihil.

Saat Ia berada di puncah Marwah, ia mendengar sesuatu. Kemudian ia berusaha untuk diam dan kembali mendengarkan suara itu dengan seksama. Dan suara itu muncul lagi, “Engkau telah memperdengarkan suaramu jika engkau bermaksud memberikan bantuan.”

Ternyata suara itu merupakan suara dari malaikat Jibril yang berada di dekat sumber air zam-zam. Kemudian Jibril mengambil air dengan sayapnya hingga air keluar memancar. Akhirnya Hajar dapat minum dan bisa kembali menyusui bayinya.

Kemudian malaikat Jibril berkata, “Janganlah kamu takut ditelantarkan, karena di sini adalah rumah Allah, yang akan dibangun oleh anak ini dan ayahnya dan sesungguhnya Allah tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya.” (4/6)

Baca juga kisah selanjutnya…

Kedatangan Suku Jurhum

Sumber : merdeka.com (dm)

GAYA HIDUP, Khazanah

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • four × two =