Blog

3 September 2020

Cara Memantau Tinggi dan Berat Badan Anak Cegah Stunting

(Foto: CNN Indonesia/Safir Makki)

Pertumbuhan anak pada 1.000 hari pertama kehidupan, termasuk dua tahun pertama, penting untuk masa depan anak. Oleh karena itu, setiap orang tua dan pengasuh mesti mengukur dan memantau tinggi serta berat badan anak untuk mencegah gagal tumbuh dan juga stunting.

“Walaupun saat pandemi seperti ini, jangan sampai lengah. Nanti growth faltering [gagal tumbuh] dan stunting meningkat lagi. Monitoring itu penting sekali,” kata dokter spesialis anak Conny Tanjung dalam peluncuran Growthpedia, Abbott Indonesia, beberapa waktu lalu.

Conny menjelaskan, pertumbuhan anak merupakan penambahan ukuran fisik dari tubuh anak secara keseluruhan maupun organ, baik penambahan jumlah sel atau pembesaran. Pertumbuhan ditandai dengan bertambahnya tinggi dan berat badan anak.

Terdapat sejumlah faktor yang mempengaruhi pertumbuhan anak seperti gen, hormon, dan nutrisi.

“Studi menunjukkan, gen memerankan peran sekitar 20-40 persen untuk pertumbuhan anak. Sedangkan 60-80 persen lainnya merupakan faktor lingkungan, terutama nutrisi,” kata Direktur Urusan Medis Abbott untuk Asia Pasifik, dokter Jose Dimaano.

Dimaano menjelaskan, mengukur dan memantau pertumbuhan anak penting dilakukan agar orang tua dapat mengambil langkah untuk demi mencegah gagal tumbuh dan stunting.

Gagal tumbuh adalah kondisi tubuh anak yang tidak dapat menerima, mempertahankan, atau memanfaatkan kalori untuk menambah berat badan. Kondisi ini membuat pertumbuhan anak bayi, dari berat maupun tinggi, tertinggal dari standar pada umumnya. Jika terus dibiarkan, gagal tumbuh dapat berkembang menjadi stunting.

Stunting adalah kondisi gagal tumbuh yang berdampak pada gagalnya pertumbuhan otak karena kekurangan gizi dalam waktu yang lama. Gagal tumbuh dan stunting dapat meningkatkan risiko anak terkena hipertensi, perlemakan hati, obesitas, serta hilangnya kecerdasan.

Berikut cara mengukur dan memantau tinggi dan berat badan anak untuk mencegah stunting.

1. Rutin mengukur

Pengukuran yang rutin merupakan kunci pemantauan pertumbuhan anak. Dengan mengukur, perkembangan pertumbuhan anak dapat diketahui. Jika pertumbuhan melambat, orang tua dan pengasuh harus segera mengambil tindakan.

Conny menyebut, berat dan tinggi badan anak mesti diukur setidaknya 8 kali dalam 12 bulan. Namun, data Riskesdas menunjukkan, 40 persen anak ditimbang tidak sesuai standar memenuhi 8 kali dalam 12 bulan.

[foto]

2. Mengukur dengan benar

Timbang berat badan serta ukur panjang atau tinggi anak dengan benar. Pengukuran dapat dilakukan di Posyandu, Puskesmas, klinik dokter, dan rumah sakit. Gunakan alat pengukuran yang benar dan sudah dikalibrasi untuk mendapatkan hasil yang tepat. Ketepatan hasil pengukuran sangat menentukan keberhasilan pemantauan.

Saat menimbang anak, pastikan anak tidak menggunakan pakaian untuk mendapatkan hasil yang tepat. Saat mengukur tinggi badan, pastikan pula postur anak berada dalam posisi yang tepat.

3. Bandingkan dengan kurva pertumbuhan anak

Setelah mengukur berat dan tinggi badan anak, letakkan hasil pengukuran pada kurva pertumbuhan anak yang sudah disediakan oleh Kementerian Kesehatan maupun Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

“Hasil pengukuran diletakkan di kurva pertumbuhan untuk mendeteksi growth faltering dan stunting,” kata Conny.

Pertumbuhan yang baik adalah pertumbuhan yang sesuai dengan kurva. Jika gerak melandai atau bahkan menurun, segera ambil tindakan untuk mencegah gagal tumbuh dan stunting.

4. Tindakan mencegah gagal tumbuh dan stunting

Jika terdapat pertumbuhan anak yang tidak sesuai dengan kurva, segera lakukan tindakan untuk meningkatkan pertumbuhan anak. Memacu pertumbuhan anak dapat dilakukan dengan memberikan nutrisi yang seimbang.

Conny menyarankan agar anak diberi nutrisi seimbang mulai dari karbohidrat, protein hewani, lemak sehat, vitamin, dan mineral.

“Peran nutrisi penting, terutama protein, karena butuh untuk perkembangan sel dan membawa hormon. Protein hewani adalah yang paling baik karena muda dicerna dengan jumlah asam amino yang lengkap,” tutur Connya.

Jika anak tidak menunjukkan perbaikan setelah pemberian nutrisi seimbang, bawa anak ke dokter untuk mengambil langkah medis.

Sumber : cnnindonesia.com

GAYA HIDUP, Kesehatan

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • twenty − sixteen =