Blog

11 Januari 2021

Harga Kedelai Melambung, Pengusaha Tempe dan Tahu di Banyuwangi Menjerit

foto : litbang.kemendagri.go.id

Harga bahan baku kedelai impor melambung membuat pengusaha tempe dan tahu di Kabupaten Banyuwangi, menjerit. Pengusaha terpaksa harus mengurangi jumlah produksi tempe.

Salah satu pengusaha tempe asal Desa Wonosobo, Kecamatan Srono, Syamsul Mualim mengatakan, dirinya yang biasa memproduksi tempe 2 kwintal kini harus mengurangi produksinya menjadi 1,2 kwintal saja. Kondisi ini dilakukan karena tak kuat dengan harga bahan baku yang melambung.

“Terpaksa harus mengurangi jumlah produksi Biasanya sehari kami bisa menghabiskan 2 kwintal kedelai. Sekarang hanya kisaran 1 sampai 1,2 kwintal saja,” kata H. Syamsul saat ditemui di pabrik tempe miliknya,UD. Sumber Rejeki

Selain itu, untuk menekan biaya produksi agar tidak terlalu merugi, pihaknya terpaksa harus memperkecil ukuran tempe yang dijual ke pasaran.

“Biasanya ukurannya memang agak besar. Sekarang kita perkecil, tapi harganya di pasar tetap. Ada yang seribu, seribu lima ratus dan dua ribu lima ratus rupiah. Apalagi kita punya tiga karyawan,” terang Syamsul.

Pihaknya tak berani menaikkan harga jual tempenya. Karena bisa dipastikan konsumen bakal tidak membeli tempe yang dibuatnya.

“Tidak berani naikkan harga. Tapi jika dihitung, sekarang kedelai impor sudah menyentuh harga Rp 9.250/kg. Padahal sebelumnya hanya Rp 6.500/kg. Naik Rp 2.750,” ungkap Syamsul.

Industri rumahan yang berdiri sejak tahun 1995 itu memang memilih kedelai impor sebagai bahan baku pembuatan tempe. Hal tersebut karena kualitasnya dinilai bagus dibandingkan dengan kedelai lokal.

H. Syamsul Mualim berharap pemerintah bisa turun tangan mengatasi masalah ini. Sebab jika tidak segera ditangani, para pengusaha tempe dan tahu bisa jadi gulung tikar akibat harga kedelai yang tak kunjung turun.

“Kami mohon untuk pemerintah melakukan operasi pasar atau semacamnya. Agar kedelai impor tidak tambah mahal lagi,” pungkasnya.

Hal yang sama diungkapkan oleh Sumi, produsen tahu di Kelurahan Singonegaran, Banyuwangi. Selain mengurangi produksi, tahu yang dibuatnya diperkecil. Meski banyak yang protes, namun dirinya tak bisa berbuat banyak.

“Banyak yang protes. Tapi ya daripada rugi banyak terpaksa saya kurangi (ukuran) tahunya,” pungkasnya.

Sumber : news.detik.com

NEWS

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • four − three =