Blog

9 Juli 2020

Kasus DBD Melonjak Tinggi, Lakukan Cara Ini untuk Melindungi Keluarga

Nyamuk Aedes Aegypti pembawa virus dengue. (liputan6.com)

Virus corona atau Covid-19 bukanlah satu-satunya yang menjadi ancaman masyarakat Indonesia saat ini. Masih banyak penyakit lain yang tak kalah berbahaya dan mengancam kesehatan keluarga, terlebih saat memasuki pergantian musim atau pancaroba. Ketika Anda sudah beraktivitas normal kembali, jangan pernah lengah dengan ancaman penyakit lain yang justru datang dari lingkungan tempat tinggal dan dalam rumah rumah sendiri.

Salah satu penyakit berbahaya yang bisa muncul dari rumah adalah Demam Berdarah Dengue, penyakit menular yang disebabkan oleh nyamuk Aedes Aegypti pembawa virus dengue. Virus ini tak bisa dianggap remeh karena terlambat menangani pasien yang terkena DBD, nyawa pasien yang menjadi taruhannya.

Kementerian Kesehatan melaporkan hingga 21 Juni 2020 sebanyak 68.753 orang terinfeksi DBD dan 446 orang diantaranya meninggal dunia. Angka tersebut melonjak tinggi dibandingkan laporan Kemenkes 15 Maret 2020 yang kasusnya mencapai 25.693 orang dan merenggut 164 jiwa. Tak main-main bukan, dalam rentan waktu tiga bulan kasus dan korban meninggal meningkat lebih dari 50 persen. Angka DBD meningkat dikarenakan beberapa faktor, yakni musim pancaroba yang panjang, masih buruknya drainase di beberapa daerah, dan kurangnya pengetahuan tentang gejala DBD sehingga telat untuk ditangani.

Anak-Anak Rentan Terkena DBD

DBD dapat dialami siapapun, tapi paling banyak terjadi pada anak-anak. Sehingga untuk para orang tua, waspadalah. Catat dan ingat selalu gejala DBD pada anak, dimulai dari demamnya yang khas. Demam tinggi terjadi secara mendadak (bisa mencapai 40 derajat Celcius) dan biasanya terjadi saat malam hari. Demam akan bertahan selama 3 hari dan selanjutnya menurun pada hari ke-4 sampai hari ke-5. Pada hari ke-6 sampai ke-7, demam akan kembali naik.

Penurunan suhu tubuh pada hari ke-4 sampai hari ke-5 sering disalahartikan, bahwa anak dianggap sudah sembuh. Jangan sampai lengah! Kondisi tersebut justru menunjukkan anak dalam fase kritis DBD, karena ada resiko anak mengalami syok (kegagalan sirkulasi darah). Inilah kenapa pada fase ini anak harus mendapat pengawasan khusus. Di samping gejala utama demam, DBD pada anak juga dapat disertai beberapa gejala lainnya, diantaranya nyeri kepala, menggigil dan lemas, nyeri di belakang mata, otot, dan tulang, ruam kulit hingga kemerahan kesulitan menelan makanan dan minuman, serta mual dan muntah.

Oleh karena itu jangan pernah remehkan nyamuk Aedes Aegypti. Terlebih lagi bukan hanya ancaman DBD saja, nyamuk Aedes Aegypti juga merupakan pembawa virus chikungunya, zika hingga demam kuning.

Langkah Pencegahan 

Sebagai langkah pertama untuk mencegah perkembangan nyamuk Aedes Aegypti dan virus dengue yang pasti sudah familiar di telinga Anda adalah menerapkan 3M (menutup, menguras, dan mengubur). Menutup rapat tempat penyimpanan air, menguras tempat penampungan air secara rutin, dan mengubur barang atau sampah yang dapat menyebabkan air menggenang perlu kita laksanakan dengan rutin. Selain menjaga lingkungan tempat tinggal tetap bersih dan tidak kumuh, perlu juga menggunakan obat nyamuk agar tidak berkembang biak di rumah.

Sumber : liputan6.com (dm)

GAYA HIDUP, Kesehatan

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • fourteen + 3 =