Blog

27 Juli 2018

Banyuwangi bangun kampung sentra sidat dengan festival tradisi ituk-itukan

Merdeka.com, Banyuwangi – Festival di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, selalu dimanfaatkan pemerintah daerah sebagai pengangkat potensi-potensi lokal. Misalnya di Dusun Rejopuro, Desa Kampung Anyar, Kecamatan Glagah atau yang biasa disebut Kampung Jopuro dimana potensi air tawar tersedia melimpah dari mata air setempat.

Sebelumnya pemuda Jopuro kompak membendung sungai aliran mata air menggunakan batu kali sehingga menjadi kolam jernih wahana wisata desa. Pemkab Banyuwangi kemudian mendukung kampung yang masih asri itu menjadi sentra budidaya sidat berbasis masyarakat. Ikan sidat dinilai memiliki keuntungan ekonomis yang lebih tinggi daripada jenis ikan air tawar lainnya.

Kepala Dinas Perikanan dan Pangan (Disperipangan) Banyuwangi Hary Cahyo Purnomo mengatakan Festival Etuk-etukan besok, akan menjadi even diperkenalkannya sidat Jopuro pada publik. Dia mengatakan pamor wisata Jopuro yang kian naik dimanfaatkan untuk mengembangkan potensi lain, yakni hasil budidaya ikan sidat.

“Fokus kami memang mina lestari menuju ekowisata. Jadi sawah di sini kami dorong untuk menjadi mina padi sekaligus untuk pelihara ikan air tawar, sekaligus budidaya sidat di kolam-kolam warga,” kata Hary, Selasa (24/7).

Koordinator pemuda pengelola wisata Kampung Jopuro Rayes mengatakan sudah 2 bulan sebagian masyarakat memelihara ikan sidat di kolam-kolam di depan rumah mereka. Masyarakat memang sejak lama memiliki kolam-kolam kecil di halaman rumah masing-masing, namun sebelumnya diisi ikan air tawar jenis lain.

“Besok dalam acara etuk-etukan akan disebar 10 kilogram bibit sidat, bantuan dari TNI AL, di kolam ikan yang kami kelola bersama,” kata pria yang kerap disapa Ayes itu.

Etuk-etukan yang digelar besok Rabu (25/7) merupakan tradisi masyarakat Jopuro dalam menyampaikan rasa syukur kepada Tuhan, dengan seribu etuk atau makanan yang dibungkus daun pisang. Makanan berisi nasi, jeruk pakis sayur, eseng-eseng terong, dan dederan nduk atau telur dadar. Etuk dan tumpeng akan diarak keliling kampung, kemudian dibawa ke area mata air sebagai tempat selamatan warga.

“Pada hari selamatan kampung itu, tidak boleh ada orang yang kelaparan di sini. Walaupun hanya menggunakan sayur yang tumbuh di sini saja, semua orang harus kebagian makanan,” kata Ayes lagi.

Mom & Kids

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • 1 × one =